Santai, santun meski ceplas ceplos. Begitulah kesan
saya tentang Pak Haris. Pimpinan sebuah penerbitan di
Solo yang saya temui dalam satu kesempatan.
Saya lupa bagaiman awanya hingga Pak Haris menyinggung
soal poligami. Kebetulan saya tertarik dengan
persoalan ini, dan sedang menulis sebuah novel bertema
poligami yang penggarapannya sangat menyita energi.
Saya ingin mendalami pikiran laki-laki. Sebenarnya apa
yang ada di kepala mereka ketika menikah lagi ?
Awalnya saya kira seperti lelaki lain, Pak Haris akan
mengelak atau memberi jawaban ala kadar. Ternyata…
“Sejujurnya Mba Asma, hanya ada satu alasan inti
kenapa lelaki menikah lagi.”
Saya dan seorang teman saat itu langsung menyimak
baik-baik.
“Dan itu bukan karena menolong, bukan karena kasihan,
atau alasan lai. Saya lelaki. Dan kalau saya menikah
lagi itu murni karena saya suka dengan gadis itu. Saya
jatuh cinta. Titik.”
Wah, jujur sekali. Pikir saya salut.
Dialog yang berawal di rumah makan berlanjut ke dalam
mobil . saya dan teman yang memang bekerja di
penerbitan yang dikelola Pak Haris kemudian
mengunjungi penerbitan beliau. Saya diperkenalkan
kepada beberapa pegawai dan juga produk-produk mereka.
Di sofa tamu, obrolan berlanjut lagi.
“Sebenarnya Ramadhan kemarin saya tergoda sekali untuk
menikah lagi. Sungguh keinginan itu dating begitu
dasyatnya.”
“Padahal Ramadhan ya, Pak ?”
Lelaki itu tertawa, mengiyakan.
“Dan saya kira saya hamper saja berpoligami, kalau
saja saya tidak bertemu seorang teman. Ikhwan yang
memberi satu pernyataan luar biasa benar dan akhirnya
berhasil mengubah niat saya.”
Dalam hati saya menebak-nebak kemana penjelasan Pak
Haris berikutnya.
“Ikhwan itu berkata begini, Mbak Asma…..Jika saya
menikah lagi; Pertama, kebahagiaan dengan istri kedua
belum tentu….karena tidak ada jaminan untuk itu. Apa
yang diluar kelihatan bagus, dalamnya belum tentu.
Hubungan sebelum pernikahan yang sepertinya indah,
belum tentu akan terealisasi indah. Dan sudah banyak
kejadian seperti itu.”
Benar sekali, komen saya dalam hati.
“Yang kedua, Pak ?”
Lelaki itu terdiam, lalu menatap saya dengan pandangan
serius.
“Sementara luka hati istri pertama sudah pasti, dan
itu akan abadi.”
Saya melihat Pak Haris menarik napas panjang, sebelum
menuntaskan kalimatnya.
“Sekarang, bagaimana saya melakukan sebuah tindakan
untuk keuntungan yang tidak pasti, dengan mengambil
resiko yang kerusakannya pasti dan permanent ?”.
****
Dialog di atas terjadi bertahun-tahun lalu. Saya tidak
tahu pasti bagaimana kabar Pak Haris sekarang, apakah
masih berpegang pada masukan si ikhwan itu atau tidak.
Saya sendiri menerima aturan poligami yang memang ada
dalam Qur’an, tetapi cenderung menyetujui pendapat
seorang ustadz muda yang mengatakan asal syari’at
poligami pada dasarnya adalah monogamy. Artinya dalam
keadaan normal, monogamy tetap lebih utama.
Betapa pun, sungguh saya iri terhadap para istri yang
sanggup mengikhlaskan suaminya menikah lagi. Hal yang
tentu teramat sulit. Bagaimana bisa berbagi pasangan
hati yang selama bertahun-tahun hanya menumpukan
perhatian pada kita sebagai satu-satunya istri ?”
Rasa iri tadi sering ditambah dengan kesedihan yang
luar biasa, saat menyadari betapa mudahnya lelaki
kemudian melalaikan tanggung jawab bahkan sampai
menelantarkan istri pertama dan anak-anaknya
Untuk kebahagian yang belum pasti ?
Teringat seorang teman asal Malaysiayang saya temui di
Seoul. Lelaki yang dengan lantang menerangkan
statusnya, ketika ditanyakan berapa anak yang Allah
telah karuniakan kepadanya,
“Dari istri pertama ada tiga. Dari istri kedua belum
ada…..”
Barangkali karena merasa bertemu dengan muslim di
negeri yang sebagian besar besar penduduknya non
muslim itu, hingga dia menjadi terbuka kepada saya.
Apalagi setelah saya katakana bahwa saya seorang
penulis.
Pernikahan kedua itu tidak pernah direncanakan.
“Ini takdir,” katanya,” Saya tidak pernah sengaja
mencari istri lain.”
Saya diam saja. Tidak hendak berdebat soal itu.
Hanya setelah saya tanyakan kerepotan memiliki dua
istri, ceritanya semakin menarik. Terakhir saya
tanyakan apakah dia merasa lebih bahagia setelah
menikal lagi ?
Mendengar pertanyaan saya, lelaki bertubuh tinggi itu
tampak termenung cukup lama sebelum menjawab,
“Yang sudah terjadi, tidak bolehlah kita sesali.”
Menatap senyum getir lelaki itu, seketika ingatan saya
terlempar pada kalimat terakhir Pak Haris, beberapa
tahun lalu.
Diambil dari buku nya Asma Nadia "Catatan Hati Seorang
Istri"
Tuesday, August 21, 2007
Kalau Saya Jatuh Cinta Lagi
Posted by thycka at 10:43 PM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment