»

Tuesday, August 21, 2007

KISAH SEBATANG BAMBU

Sebatang bambu yang indah tumbuh di
halaman rumah seorang petani.
Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang
di antara batang-batang bambu
lainnya.
Suatu hari datanglah sang petani yang
empunya pohon bambu itu.
Dia berkata kepada batang bambu," Wahai
bambu, maukah engkau kupakai
untuk menjadi pipa saluran air, yang
sangat berguna untuk mengairi
sawahku?"

Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku
mau bila dapat berguna bagi
engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang
akan kau lakukan untuk membuatku
menjadi pipa saluran air itu."
Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan
menebangmu untuk memisahkan
engkau dari rumpunmu yang indah itu.
Lalu aku akan membuang
cabang-cabangmu yang dapat melukai orang
yang memegangmu. Setelah itu
aku akan membelah-belah engkau sesuai
dengan keperluanku. Terakhir aku
akan membuang sekat-sekat yang ada di
dalam batangmu, supaya air dapat
mengalir dengan lancar.

Apabila aku sudah selesai dengan
pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa
yang akan mengalirkan air untuk mengairi
sawahku sehingga padi yang
kutanam dapat tumbuh dengan subur."

Mendengar hal ini, batang bambu lama
terdiam..... , kemudian dia
berkata kepada petani, "Tuan, tentu aku
akan merasa sangat sakit
ketika engkau menebangku. Juga pasti
akan sakit ketika engkau membuang
cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi
ketika engkau membelah-belah
batangku yang indah ini, dan pasti tak
tertahankan ketika engkau
mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku
untuk membuang sekat-sekat
penghalang itu. Apakah aku akan kuat
melalui semua proses itu, Tuan?"

Petani menjawab batang bambu itu, "
Wahai bambu, engkau pasti kuat
melalui semua itu, karena aku memilihmu
justru karena engkau yang
paling kuat dari semua batang pada
rumpun ini. Jadi tenanglah."

Akhirnya batang bambu itu menyerah,
"Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali
berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku,
perbuatlah sesuai dengan yang
kau kehendaki."

Setelah petani selesai dengan
pekerjaannya, batang bambu indah yang
dulu hanya menjadi penghias halaman
rumah petani, kini telah berubah
menjadi pipa saluran air yang mengairi
sawahnya sehingga padi dapat
tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan
masalah yang datang silih
berganti tak habis-habisnya, mungkin
Allah sedang memproses kita untuk
menjadi indah di hadapan-Nya? Sama
seperti batang bambu itu, kita
sedang ditempa, Allah sedang membuat
kita sempurna untuk di pakai
menjadi penyalur berkat. Dia sedang
membuang kesombongan dan segala
sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya.
Tapi jangan kuatir, kita pasti
kuat karena Allah tak akan memberikan
beban yang tak mampu kita pikul.
Jadi maukah kita berserah pada kehendak
Allah, membiarkan Dia bebas
berkarya di dalam diri kita untuk
menjadikan kita alat yang berguna
bagi-Nya?

Seperti batang bambu itu, mari kita
berkata, " Ini aku Allah,
perbuatlah sesuai dengan yang Kau
kehendaki."

0 comments: