Hidup itu pilihan..
Walaupun sulit untuk memilih,tapi terkadang 'ketupat sikon' - keaadaan, waktu, tempat. situasi dan kondisi- di lingkungan ngewajibin qta untk g bs meraih smwa, dan kembali pada suatu pilihan.
Dari hal kecil aj,qta hrs milih, mau makan apa? Dmana?
Sampai sebuah pilihan untuk ngejalanin hidup, maw dbw kmana diri qta,
ke jalan 4JJI, atw k jalan yg d murkai 4JJI?
Untuk menjadi seseatu yang qta inginkan, ada hal-hal yang harus dijalanin, di mana di dalamnya harus diiringi dengan usaha dan doa. Bagaimana hasilnya, itu merupakan hal yang menjadi kuasa 4JJI SWT, karena yang baik menurut qta, belum tentu yang terbaik menurut 4JJI, karena hanya 4JJI lah yang tahu jalan terbaik yang harus qta tempuh.
Bertambahnya usia, itu merupakan hal yang mutlak, tidak dapat dicegah walau hanya sedetik pun.. Tetapi menjadi dewasa, itu adalah pilihan untuk menjalani hidup, yang didalamnya diiringi konsekuensi untuk dapat berpikir secara matang, tidak lagi hanya berdasar nafsu dan ego sesaat.
Mencoba meletakkan seseatu pada tmptnya, mencoba tidak lagy meletakkan ego pribadi di atas segalanya n mencoba mendengar apa yg dkatakan orang lain dan menarik suatu ksimpulan yg akhrnya aq jadikan sebagai pilihan hidup. Ini aq coba terapkan dlm stiap langkahku, dari karir, keluarga,dan semua sisi hidupku. Saat aq dihadapkan pada suatu pilihan, aq mencoba untuk mendengarkan suara hati, karena yang aq yakini setelah aq berdoa, 4JJI letaknya ada di dalam hati. Soal bagaimana hasilnya, itu relatif, karena yang tampak dari luar, belum tentu sama dengan apa yang ada. Yang terpenting untukku, aq sudah melakukan usaha dan doa yang terbaik dariku, sehingga nantinya takkan ada penyesalan.
Karena benar itu tergantung dari sisi mana qta mlihatnya, dan kebenaran mutlak hanya milik 4JJI SWT..
Sunday, July 29, 2007
Hidup itu pilihan...
Posted by thycka at 6:35 PM 0 comments Links to this post
Sunday, July 22, 2007
Rindu Bunda...
Kubuka album biru, penuh debu dan usang, kupandangi semua gambar diri, kecil bersih belum ternoda.
Fikirku pun melayang dahulu penuh kasih, teringat semua cerita orang, tentang riwayatku….
Kata mereka diriku slalu dimanja.. kata mereka diriku slalu ditimang…
Oh Bunda. Ada dan tiada dirimu kan selalu hadir di dalam hatiku….
Happy Birthday, Mom..
I miss u...
Posted by thycka at 5:50 PM 0 comments Links to this post
Sunday, July 15, 2007
Jadwal Ujian 29 PLSI
UJIAN UTAMA
1. PERANGKAT LUNAK WEB 09/08/2007 JAM 18:30
UJIAN AKHIR
1.TESTING DAN IMPLEMENTASI SISTEM - SENIN 23/07/2007 JAM 18:30
2.SIM JAR BISNIS INTERNASIONAL - RABU 25/07/2007 JAM 18:30
3.PENGEMBANGAN SISTEM - JUMAT 27/07/2007 JAM 18:30
4.MANAGEMEN STRATEGIK DAN SISTEM PAKAR - SENIN 30/07/2007 JAM 18:30
5.MANAJEMEN PEMASARAN BERBASIS WEB - RABU 1/8/2007 JAM 18:30
6.KRIPTOGRAFI - JUMAT 3/8/2007 JAM 18:30
Yang ngulang SPK... barengan gwa yahh.. Tgl 2 Agustus 2007...
Posted by thycka at 11:39 PM 0 comments Links to this post
Wednesday, July 11, 2007
Siapa Takut Jadi Akhwat??
From: myquran.org -- curahan hati kami yang masih berproses.. :P --
Kesannya kok serem banget. Susah banget jadi ikhwah itu. Palagi sampe jadi aktivisnya. Sehingga sampai harus berpikir dua kali ketika diajak bergabung halaqoh atau masuk ke dunia ikhwah. Itu kesanku ketika beberapa kali mengalami penolakan ketika mengajak orang untuk bergabung dengan kafilah dakwah ini. Hanya untuk mengikuti kajian rutin saja, mereka menolak. Ada apa sih ? Toh..sebenarnya itu semua untuk kepentingan mereka sendiri. Jawabannya, kadang belum siap, takut, serem dll. Mang susah ya jadi ikhwah itu ?
Bahkan ketika lebaran kemarin…mantan gengku waktu SMA silaturahim ke rumah…aku sempat bertanya, kenapa sih kok ga jadi ikhwan ? Padahal kan di Perguruan Tinggi favorite tempat mereka dulu kuliah kutahu marak banget kegiatan keislaman seperti yang kukenal. Sapa yang ga ngerti UI, UGM, ITB, IPB ? Eh..jawabannya tak terduga, ..serem katanya !
Mosok serem sih ? Perasaan biasa aja sih..sesuai dengan fitrah kita sebagai hamba Allah. Ga ada yang menyimpang sama sekali kok ! Eh malah di timpalin...iya kamu aja yang akhwat jadi-jadian jadi tidak seperti itu ! Weleh perlu tersinggung nih.... Mang seperti apa sih yang ikhwah sungguhan ? tanyaku...
Katanya...Jadi ikhwah itu menyeramkan ! Tidak boleh ini, tidak boleh itu...pokoknya yang bau dunia yang ‘indah-indah’ tidak ada dalam kamus mereka. Pokoknya harus seriuuuuuuuusss mulu ! Kaku, pokoknya isinya cuma ngaji, ngaji dan ngaji aja. Hehehe...tak tahu dia...
Lihat konser musik ga boleh, pacaran ga boleh, pake baju yang seksi ga boleh. Wis pokoknya hidup mesthi lurus-lurus aja ! Aku cuma nyengir doang...habisnya aku ga ngerasa githu sih..aku ga ngerasa kalo jadi akhwat itu susah, yang terikat dengan begitu banyak aturan, dan lain-lain, yang akhirnya seakan hidup kita jadi ga enjoy blass...adanya cuma tilawah, ngaji, jihad, dakwah..dll. Mang bagian itu iya, tapi ga mulu itu aja deh perasaan.
Kalo ga boleh pacaran (ngedeketin zina), harus pake jilbab, ga boleh mabuk-mabukan, ga boleh makan barang haram,..itu sih, ga jadi ikhwah pun ya memang harus seperti itu aturan mainnya. Kecuali kalian bukan mengaku beragama islam, yang berpedoman pada al qur’an dan as sunah. Itu sih..aturan yang memang dari sananya dah cetho welo-welo yang ga butuh penafsiran lain.
Tapi ketika pagi tadi tak pikir-pikir...memang ada sih beberapa ‘etika’ di ikhwah yang akhirnya jadi menimbulkan kesan, kalau jadi ikhwan atau akhwat tuh susaaaaaahh banget. Itu ‘etika juga ga jelas siapa yang tandatangan sebenarnya. Tapi jadi seperti pakem. Yang sering juga aku dibuat keqi dengan ‘etika’ itu. Mungkin sering kenanya itu kali..
Aku mungkin masuk dalam kategori akhwat jadi-jadian itu kali ya..jadi sering kena tegur, taujih atau sindiran atau malah jadi sumber gara-gara. Lupa aku, berapa kali harus berurusan sama yang seperti itu. Ups..berarti ndableg bener aku ya..Weleh.... Juga aku baca beberapa artikel yang menyayangkan atau ga setuju dengan akhwat atau ikhwan yang ‘keluar jalur’ dari jalur etika umum itu.
Diantaranya pernah ada yang protes dengan hobi kami. Waktu itu olahraga rutinku masih tenis lapangan dan renang, Aku memang sukanya memang rame-rame. Aku ajak aja adik-adik untuk bergabung. Hasilnya ? Hame pasti…! Eh, ada beberapa suara yang tidak suka dengan olahraga kami. Akhwat itu ga pantes renang, atau tennis di lapangan githu… nanti kalau kelihatan laki-laki gimana ? Mendhing buat kegiatan yang pantes githu lho…masak kek, jahit atau yang lainnya. Coba buat baca buku..dapet berapa aja tuh ?
Aku termasuk yang sewot. Kok segithunya sih? Memangnya kita-kita jadi tidak baca buku hanya karena tennis atau renang. Lagian kita juga dah mikir lah…aturannya juga kan tidak kami langgar, renangnya juga kan tidak campur ma laki-laki. Renangnya juga pake baju panjang dan jilbab.
Juga pas tennis, juga ga campur sama lain jenis githu, nutup aurat juga. Kalo ada kepergok laki-laki (yang jaganya)..biasanya yg tadinya teriak-teriak pasti akan segera berubah sikap, jadi kalem..hehehe..
Juga soal jilbab ceria yang beberapa kali kubaca dari beberapa majalah. Intinya tidak pantes banget akhwat tuh pake baju ceria githu. Penyebab fitnah, malah ada yang menyindir dengan istilah akhwat high class.
Aku pengalaman hampir tiap kali dapat sindiran kalau lagi pakai baju kantor. Akhwat…baju kok genjring banget githu lho… Ya, gimana lagi, seragam kantorku memang dah gini, senin hitam putih, selasa orange cerah (lihat tablet fitamin Vit C, lihat bajuku deh..), rabu merah (bukan sembarang merah, tapi merahnya merah ), kamisnya hijau segar, Jum’atnya karena aku piket TPT, dapet seragam batik kuning cerah. Kebayang kan betapa cerianya hari-hariku ?
Karena ga betah dengan sindiran soal cerianya baju ngantorku, aku siasati pake jilbab hitam, berharapnya nyala bajuku bisa keredam. Weh..tapi akhirnya ga betah juga..mosok dari senin sampai jum’at, jilbab hitam mulu karena biar matching ma roknya ? Dan pakai jaket kalau ada acara ikhwah pas jam-jam kantor. Itu aja masih aja kena sindir karena jilbabnya yang ceria itu. Tapi lama-lama EGP aja..mang akhwat mesthi bajunya gelap aja?
Juga, beberapa pakem, seperti.. ga ahsan pake jaket dan jilbab dimasukin. Atau juga pernah ada julukan akhwat selebritis untuk akhwat-akhwat kampus yang pakai tas gamblok di punggung.
Rese’ banget ya…dan susah banget githu kesannya mo jadi akhwat. Pa lagi kalo yang ngikut anggapan, musik/nasyid haram, fiksi haram, ini itu ga boleh.. bid’ah ! Byuh..tentu lebih jauh lagi. Pa iya sih..syariat islam itu begitu susahnya dan begitu seramnya. Yang kutahu sih..islam itu indah dan membahagiakan yang memeluknya.
Kalau itu tidak melanggar syari’ah..atau masih berkutat pada masalah yang masih khilafiyah (ada perbedaan pendapat) ..napa mesthi kita ribuuuuuut mulu? Jadi menimbulkan kesan mo jadi ikhwan atau akhwat aja kok susah banget. Akhirnya malah terjebak pada masalah yang tidak esensial. Lebih ngributin akhwat berjilbab ceria daripada prihatin dengan kasus dilarangnya pakai jilbab yang nyar’i di beberapa instansi misalnya.
Aku tidak menafikkan bahwa da’wah ini, tidak akan terhasung kecuali oleh orang- orang yang senang mengambil rukhsah (keringanan). Tapi apa iya sih, orang-orang yang serius itu jadi sebegitu kakunya ? Sampai –sampai kehilangan oase jiwa, romantisme dan rasa seni dalam dirinya.
Yang tawazun aja lah…tapi juga jangan terlalu sak kepenak e dewe. Memang lucu sih…kalau hanya dateng ke taklim aja, dandannya seperti mau ke pesta walimahan. Memang mata jadi sepet juga mandangnya kan ? Kasihan juga lah ma ikhwan yang tersepona.Tahu tempat aja lah..
Atau bernasyidnya mengalahkan tilawahnya. Baca komiknya, novel, dll..mengalahkan buku-buku yang menambah tsaqoffah islamiyahnya. Koleksi bukunya kalah sama koleksi barang lucunya.
Atau segithu kencengnya menjaga hijab, sampai cara ngomongnya lebih mirip ngebentak daripada sekedar ngomong. Judes amat …biasa ajalah. Suer, mengalir ajalah…nikmat kok jadi akhwat tuh..selamat dunia akhirat deh. Dan ga akan ada istilah bosan jadi akhwat (istilah lainnya futur ngono lho..) buktiin deh..
Eit's...tunggu, aku nulis ini bukan hendak membela diri, aku mang dah stelannya begini. Gi mati-matian berproses. Atau juga aku apriori ma ikhwan akhwat yang jempolan itu, dan mempengaruhi yang lain untuk tidak seperti mereka. Bukan ! Kepada mereka yang lurus-lurus aja, aku acungin lima jempol deh..(satu pinjem temen bentar ya..). Aku malah suka membayangkan yang indah-indah soal sampeyan lho...Suer !
Kalau nasyid aja diharamkan, fiksi diharamkan, wah..tahu tidak, bayanganku soal sampeyan itu, tilawahnya sehari bisa berjuz-juz, hafalan qur'annya wuih..ga kebayang dah. Soalnya kan ga mungkin mengharamkan nasyid, tapi menikmati DEWA atau Peterpan kan ? Fiksi haram, Pi Harry Potter jalan...kecuali kalau semua itu cuma wacana doang. Ilmu tanpa amalan.
Pokoknya wuih aja deh... kalau tidak sampai seperti itu, lha waktu yang begitu banyak, buat apaan aja ? buat tidur dan bengong aja ? atau habis buat...hm..hm..jiddal ya ? hehehe..afwan..ga kebayang githu lho..
Soalnya, sodaraku yang anggota tim nasyid tenar aja, suka konser kemana-mana, bisa tilawah seharinya lebih dari satu juz, hafalan qur'an lebih dari lima juz. Juga ikhwah yang suka demo, amanah banyak aja baca bukunya bisa begitu banyak. Pakai logika wong bodo aja sih aku..
Salut kok dengan ikhwah yang model lurus-lurus githu..dah pinter, aktivis, hijabnya kenceng..pokoknya yang indah-indah deh... Tapi bukan berarti kami-kami yang masih merangkak tidak berhak untuk gabung di kafilah dakwah ini kan ? Karena kuyakin..islam itu indah, tidak mesthi seragam lah semuanya itu..pi berproses githu lho..dan sepertinya juga tidak harus seperti pakem itu lah..(hehehe..itu menurutku seh... Jadi ikhwah itu sesuai fitrah kok...jangan ngeri lah !
So, sapa takut jadi akhwat ? Jadi aktivis sekalipun,…enjoy aja lagi !
Posted by thycka at 1:03 AM 0 comments Links to this post
Tuesday, July 10, 2007
Ketika Ada yang Menginggal, Untuk Apa Menangis?
Setiap kali ada yang meninggal, bisa dipastikan ada yang menangis. Sedih? ya, itu sudah wajar. Tetapi untuk apa menangis? Inilah yang coba kita bahas sedikit. Setiap insan yang hidup akan menangis tatkala orang terdekatnya, mungkin itu isteri, suami, anak, adik, kakak, orang tua, anggota keluarga lainnya, atau sahabatnya pergi untuk selamanya. Air mata akan meleleh, meski dalam kesehariannya ia dikenal sebagai orang kuat, orang hebat, atau orang yang dikenal pantang menyerah. Ada haru, sedih ketika terlintas ribuan peristiwa bersama saat mereka masih hidup. Kemudian mulut pun bergumam, "rasanya baru kemarin kita tertawa bersama..."
Begitu cepat waktu berlalu. Lebih tepatnya, terasa cepat waktu berlalu. Namun memang begitulah waktu, sangat cepat, singkat, tak tertunda dan tak mungkin terulang. Sayangnya, kita selalu dan hanya bisa gigit jari setiap kali sadar betapa banyak waktu yang terlewati tanpa hal bermakna.
Kembali soal kematian. Wajarlah jika orang menangis saat seseorang yang dekat dengannya meninggal dunia. Tetapi jika ada yang menangis saat "bukan siapa-siapa" kita yang meninggal, kenapa?
Setegar apa pun saya, selalu menangis setiap kali ada keluarga, kerabat dan sahabat yang meninggal dunia. Namun ternyata, air mata ini pun meleleh seketika setiap kali saya melihat keranda mayat diusung beberapa orang melintas di hadapan. Entah siapa yang berada di dalam keranda itu, saya tidak pernah mengenalnya. Tetapi tetap saya menangis.
Menangis saya lebih dahsyat lagi di banyak tempat. Setiap kali saya berada di lokasi bencana seperti tsunami, gempa, banjir bandang. Saat menyolatkan para korban gempa, atau korban tsunami, dijejerkan jenazah-jenazah berkafan putih di hadapan saya. Seolah banjir bandang tengah melanda pelupuk mata ini, nyaris tak kuasa saya berdiri, bahkan mata ini tak sanggup terus menerus menatap puluhan dan ratusan jenazah yang terbujur kaku.
Ya Allah. Ternyata mati bisa kapan saja, bisa karena apa saja. Sahabat saya yang sehat-sehat saja, tiba-tiba meninggal dunia. Ratusan ribu orang di Aceh yang sedang beraktivitas pagi, dalam sekejap habis disapu tsunami. Mereka, mereka semua itu, tidak satu pun keluarga dekat saya, boleh jadi tak satu pun yang saya kenal. Bahkan saya tidak pernah mendengar nama dan bertemu langsung dengan mereka. Tetapi kenapa saya menangis?
Ternyata, ada air mata yang berbeda yang keluar dari sudut mata ini. Jika dulu ada anggota keluarga yang meninggal dan saya menangis, itu lantaran saya merasa begitu sayang, cinta, dan dekat dengannya. Saya merasa tak ingin ditinggal. Tetapi sekarang, setiap kali ada yang meninggal dunia, sendirian kah, puluhan orang, bahkan ribuan orang, dikenal maupun tidak, saya tetap menangis. Jelas karena saya begitu takut, sangat takut bahkan.
Ya, saya benar-benar menangis setiap kali ada yang meninggal. Setidaknya mata ini berkaca-kaca. Sebab saya tahu persis, masa saya akan tiba. Meski saya tidak tahu persis, kapan waktunya. Saya benar-benar menangis, setiap melihat keranda mayat, membayangkan suatu saat saya yang berada di dalamnya. Atau saat melihat sesosok jenazah disholatkan, kemudian ditanam di dalam kubur. Saya tahu, pasti saya akan mengalaminya.
Sungguh, saya benar-benar menangis saat saya tahu pasti. Belum banyak bekal yang saya punya untuk perjalanan yang lebih panjang itu. Ampuni saya ya Allah...
pembaca tetap http://gawtama.multiply.com/journal/item/221
Posted by thycka at 7:48 PM 0 comments Links to this post
Monday, July 9, 2007
Cermin Masa Lalu
Menyerah? tentu tidak. Meski harus kembali terluka, menambah benjolan di sisi lain kening, atau menutup luka kemarin dengan luka yang baru, semangat tak pernah luntur demi bisa berdiri di atas sepeda roda dua. Esok hari, tambah lagi luka baru, atau luka yang sama bertambah parah, tetap saja terus berusaha mengayuh sepeda. Tiga kayuhan pertama, jatuh. Esok mendapat tujuh kayuhan, kemudian jatuh. Sebelas kayuhan, jatuh lagi dan seterusnya entah sudah keberapa ratus kali aspal jalan depan rumah itu bersahabat dengan lutut, lengan, kening ini. Hingga akhirnya jalan lurus, jalan terjal, mendaki dan turunan, hingga berlubang pun mampu dilewati dengan lincah, cepat dan yang penting, tidak lagi jatuh.
Menanjak remaja, sepeda motor pun dijajal. Tak peduli meski orang tua belum sanggup membelikannya, yang penting bisa dulu. Kali pertama menunggang kuda besi itu, ladang orang pun menjadi tempat pendaratan terbaik. Luka lama kembali terbuka, namun itu tak menyurutkan semangat. Malu rasanya tak mampu mengendarai motor layaknya semua teman lelaki di kampung. Bermodal semangat dan kepercayaan diri, ditambah sedikit gengsi kelelakian, melajulah motor tanpa lagi tersuruk di kebun singkong, tak lagi terparkir di tempat yang salah.
Di masa lalu, jatuh bangun pernah dialami. Sakit, luka, menangis, berdarah-darah menjadi sahabat sehari-hari. Tapi sakit, luka, air mata dan darah yang pernah menetes itu menjadi saksi bahwa semangat diri tak pernah padam untuk meraih keberhasilan. Tak hanya semangat, cita-cita untuk sekadar bisa melenggang mulus di atas sepeda atau motor yang begitu kuat, membuat diri rela jatuh bangun dan terluka. Sebuah pengorbanan yang harus dibayar.
Di masa lalu, kegagalan demi kegagalan pernah sangat rekat dengan diri ini. Pernah juga beberapa kesuksesan menjadi bagian kehidupan, gerimis hati ini saat menjalaninya. Jutaan jalan berlubang pernah terlalui, beberapa kali terjerembab di dalamnya. Jalan gelap begitu sering harus ditapaki, tak jarang menemui jalan buntu. Tak terbilang peluh saat mendaki, sementara senang tak terkira ketika mendapati jalan menurun. Yang membuat diri tak percaya, sungguh semuanya pernah dilalui.
Di masa silam, ada banyak sahabat baru berdatangan dan mengiringi hari-hari penuh kehangatan. Tak berbeda masanya, beberapa sahabat pernah pula meninggalkan diri, menjauh dan tak lagi pernah tahu gerangan dirinya. Pilu ketika harus berpisah, haru saat berjumpa kembali. Begitu banyak cinta bersemi, meski di waktu yang sama ada pula yang menabur benci pada diri.
Ketika masih sama-sama di bangku pendidikan, bersama sahabat mengukir mimpi. Melukis masa depan, membayangkan akan menjadi apa diri ini kelak, usia berapa menikah, seperti apa pasangan hidup nanti, berapa banyak anak yang dihasilkan, apa jenis kendaraan yang diinginkan, rumah sebesar apa yang didambakan, berapa banyak yang diinginkan saat kali pertama gajian, dan apa yang ingin dibeli dengan gaji pertama itu.
Waktu berlalu, mimpi terlewati, ada yang terwujud, tak sedikit yang menguap bersama awan di langit. Lukisan masa depan semakin buram, tak lagi jernih seperti saat pertama ditorehkan di atas kanvas harapan. Ada yang menyesali langkah tak tepat yang pernah ditempuh, ada yang mensyukuri karena tak selamanya apa yang dianggap benar, benar pula menurut Sang Maha Berkehendak.
Kita memang tak pernah bisa tahu yang akan terjadi besok, tetapi kita pernah punya masa lalu yang telah banyak memberi pengajaran. Kita pernah jatuh, terpuruk, sedih, bahagia, manis, pahit, terbang, menangis, tertawa, sendiri, bersama, di masa lalu. Sedangkan masa depan, kita hanya bisa mengukirnya di dalam bingkai mimpi, hanya bisa mengira, merencana dan merekayasa. Justru karena itulah, kita mesti belajar dari masa lalu. Karena masa lalu telah pernah mengajarkan semuanya. Bercermin dari masa lalu, agar rencana dan rekayasa untuk mimpi masa datang lebih mendekati kenyataan.
-dari seorang teman-
Posted by thycka at 11:45 PM 0 comments Links to this post
Sunday, July 8, 2007
Gemuruh Hati...
Malam itu, belum genap pukul delapan malam. Usai sholat berjamaah bersama seluruh anggota keluarganya, seorang lelaki paruh baya memanggil keempat anaknya. Ia menatap nanar satu persatu wajah anaknya, dari yang paling besar hingga si kecil. Lelaki itu tak sanggup bertemu mata dengan tatapan anak-anaknya yang menunggu gerangan apa yang hendak disampaikan Bapaknya. Sementara di sudut ruangan sempit berdinding batako tak berplester itu, ibu keempat anak itu tertunduk menahan gelembung di sudut mata yang mendesak-desak.
“Nak, mulai besok kalian tidak usah sekolah lagi ya? Bapak sudah tidak punya uang untuk biaya sekolah kalian…” suara parau itu pun akhirnya keluar juga. Sebenarnya, lelaki itu tak pernah sanggup untuk mengungkapkannya. Selama hampir empat bulan kalimat itu selalu dijaganya, namun hati dan pikirannya sudah tak mampu lagi menampung semua beban itu. Dan nyatanya, memang ia tak lagi sanggup.
Di balik dinding rumah lainnya,
Seorang ibu yang telah lama ditinggal suaminya terpaksa menyuruh tidur tiga anaknya lebih dini. Usai sholat isya, semua anak-anaknya yang masih kecil dipaksa tidur agar bisa melupakan lapar yang dirasanya.
Sejak suaminya meninggal dunia setahun lalu, ia memeras keringat sendirian membesarkan tiga anaknya dengan bekerja sebagai tukang cuci di beberapa rumah tetangganya. Jangankan untuk bisa bersekolah, penghasilannya sangatlah tidak mencukupi bahkan untuk makan sehari-hari. Sehingga dengan sangat terpaksa ia mengatur jadwal makan ia dan ketiga anaknya hanya sehari sekali. Setiap pagi anak-anaknya hanya diberi air putih. Memasuki siang hari barulah mereka melahap nasi dengan lauk seadanya.
Setiap menjelang maghrib, ibu tiga anak itu harus menjerit dalam hati mendengar perih kesakitan anak-anaknya yang menahan lapar. Ia hanya mampu berkata, “sabar nak…” untuk menenangkan anak-anaknya. Dan memang tidak pernah ada yang bisa disantap lagi hingga besok pagi.
Di sebuah kamar tidur di rumah yang lain lagi,
Seorang suami mendekati isterinya perlahan dan penuh hati-hati. Ia bertanya, “apakah anak-anak sudah tidur?” “sudah” jawab sang isteri.
Lalu, “bagaimana mungkin mereka bisa tidur dengan perut lapar setelah seharian tidak makan?” tanya sang suami lagi.
“Ibu janjikan akan ada makan enak besok pagi saat mereka bangun, maka mereka pun segera tidur” jelas isterinya.
Setiap malam, dialog itu terus berlangsung. Dan setiap pagi, tidak pernah ada makanan enak seperti yang dijanjikan sang ibu kepada anak-anaknya. Sungguh, boleh jadi di pagi-pagi yang akan datang, akan ada satu-dua anak dari keluarga itu yang tak pernah lagi terbangun lantaran kelaparan.
Sementara di sebuah rumah kontrakan,
Seorang isteri berkata kepada suaminya, “pak, besok saya malu keluar rumah. Takut ketemu Pak Sofyan pemilik kontrakan ini. Kita sudah lima bulan tidak membayar kontrakan. Dan sebenarnya Pak Sofyan sudah mengusir kita”.
Sang suami hanya mampu menghela nafas panjang. Sungguh, jika bisa ia tak ingin kalimat itu keluar dari mulut isterinya. Jika pun mampu, ia tak mau membuat isteri tercintanya malu bergaul bersama para tetangga lantaran terlalu banyak sudah hutang-hutang mereka yang belum sanggup terbayar.
Lagi, di sebuah ruang keluarga rumah yang lainnya,
Seorang bapak membawa sejumlah uang cukup banyak dan bungkusan makanan yang nikmat untuk isteri dan anak-anaknya. Inginnya ia berteriak sekeras-kerasnya saat isteri dan anak-anaknya tertawa bahagia menyambut bingkisan yang dibawanya. Tetapi ia pun tak ingin membuyarkan kegembiraan di ruang keluarga itu.
Saking bahagianya, sang isteri terlupa bertanya dari mana suaminya mendapatkan uang segitu banyak dan bisa membeli makanan enak. Sehingga setelah larut dan setelah semua anak-anaknya terlelap, teringatlah sang isteri bertanya. Apa jawab sang suami? “Siang tadi bapak terpaksa mencopet…”
***
Sungguh teramat banyak hal yang membuat hati ini lebih bergemuruh jika kita mau mendekat, melihat dan mendengarnya dari balik dinding-dinding rumah saudara-saudara kita. Lihat di sekitar kita, banyak suara-suara yang tak sanggup telinga ini mendengarnya, banyak tangis yang mengiris-iris hati, dan banyak pemandangan yang membuat terenyuh. Sayangnya, kita sering terlupa melihat dan mendekat…
-= ..dari se0rang teman.. =-
Posted by thycka at 9:19 PM 0 comments Links to this post
Thursday, July 5, 2007
Irwansyah & Acha - Ada Cinta
Irwansyah & Acha - Ada Cinta
ucapkanlah kasih satu kata yg ku nantikan
sebab ku tak mampu membaca matamu
mendengar bisikmu
nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu
sebab ku tak sanggup mengartikan getar ini
sebab ku meragu pada dirimu
reff:
mengapa berat ungkapkan cinta
padahal ia ada
dalam rinai hujan
dalam terang bulan
juga dalam sedu sedan
mengapa sulit mengaku cinta
padahal ia terasa
dalam rindu dendam
hening malam
cinta terasa ada
nyanyikanlah kasih senandung kata hatimu
sebab ku tak sanggup mengartikan getar ini
sebab ku meragu pada dirimu
repeat reff
Posted by thycka at 1:21 AM 0 comments Links to this post
Monday, July 2, 2007
Suatu perenungan atas "Sajadah Berdzikir"
"Sajadah Berdzikir" suatu artikel dari Kang Aid di "livingschool_community"..
http://kangaid.blogspot.com/2007/06/sajadah-berdzikir.html
pelan, tapi sangat menyentuh satu sisi hidupku yang baru saja aku alami...
Setelah aku baca, kok agak2 mirip ya kejadiannya... tapi hasil akhirnya beda... aq lebih memilih apa yang jadi pilihan hatiku. Jika ditanya kenapa, aq juga tidak tahu jawabnya, hanya hatiku yang memilh..
4JJI, aq hanya bisa berharap, pilihanku benar dan ini adalah jalan hidup terbaik yang engkau berikan untukku.. Amiiinnn....
Posted by thycka at 7:18 PM 0 comments Links to this post