»

Thursday, August 30, 2007

Bukan Permata Biasa

Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu' berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya.
Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya.

Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta'jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.

Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa 'Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama'a bainakuma fii khairin' mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.

Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.

Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.

Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Oh...segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah 'ala kulli halin. "Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban."

Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. "Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku." Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya.

Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, "Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini." Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta'ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.

Sang suami menuturkan, "Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu'annya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku."

Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur'an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.

Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.

Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.

Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.

Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi da'i besar di kota Madinah.

Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan "bukan permata biasa". (Ummu Asyrof dari kumpulan kisah nyata, Abdur Razak bin Al Mubarak)

Diambil dan diketik ulang oleh Redaksi dari: Majalah Elfata edisi 08 volume 07 tahun 2007
Written by Ummu Asyrof

Monday, August 27, 2007

Pilih satu, dapat tiga....

CALON ISTRI SEORANG LAKI-LAKI
[Pilih satu dapat tiga.... Subhanallah...]

Seorang teman pernah mengatakan, kriteria calon isterinya: shalihah, cerdas, kaya dan cantik. Sebuah hadist juga mengemukakan, seorang perempuan dipinang karena kecantikannya, hartanya dan keturunannya. Tapi pinanglah perempuan karena keshalihannya. Itu yang utama. Saya sepakat dengan hadist tersebut. Perempuan yang shalihah, insya Allah cerdas. Ketika seorang perempuan cerdas, harta bisa dicari. Bila harta sudah di tangan, kecantikan bisa dibeli. Pilih satu, dapat tiga.

Namun, bila kita tinjau ulang, pemikiran akan kriteria calon isteri tersebut cenderung egois. Tidak memandang dari banyak sisi. Hanya memandang pernikahan dari segi manfaat untuk diri sendiri. Tidak untuk keluarga, sahabat dan lingkungan sekitar. Padahal menikah adalah penyatuan dua organisasi besar; keluarga, membentuk organisasi baru. Banyak pihak yang bisa terpengaruh dan mempengaruhi pra dan pasca pernikahan.

Jika kita berkaca, mengevaluasi. Melihat, mencari kelebihan dan kekurangan diri. Niscaya kita akan menemukan berbagai fakta; kita juga punya banyak kekurangan. Lalu, pantaskan bersibuk ria dengan segala macam kriteria? Sedang diri sendiri mungkin tak bisa memenuhi segala kriteria impian oleh calon pasangan. Seseorang berharap mendapat perempuan shalihah, namun apakah dia cukup shalih untuk berdampingan dengan perempuan shalihah. Ia ingin perempuan cerdas, tapi apakah ia cukup cerdas untuk mengimbangi kecerdasannya? Ia ingin perempuan berharta, tapi seberapa banyak harta yang dapat dia berikan, untuk ‘membeli’ sang calon dari ayah-bundanya. Dan ketika ia ingin perempuan cantik, apakah ia sendiri cukup gagah, tidak jomplang, saat bersisian dengannya? Tidakkah keinginan si lelaki terlalu berlebih?
Dari kisah cinta para Nabi, sahabat dan para syuhada, ada sejumlah fakta: tangan Allah selalu bermain. Kisah cinta Muhammad-Khadijah, Yusuf-Zulaikha hanyalah sebagian kecil contoh. Keikhlasan menggenapkan separuh agama pasti akan mendapat anugerah luar biasa; seorang isteri penghuni taman surga. Segala hambatan pernikahan hanyut karena ibadah yang khusu, penghambaan yang sangat padaNya. Manusia hanya berusaha, hasilnya terserah pada Yang Kuasa.

Hendaknya seorang lelaki berusaha melihat dari banyak sisi, ketika datang seorang calon isteri padanya. Segala identitas standar bukan pertimbangan utama. Serahkan saja padaNya. Meminta petunjuk lewat shalat istikharah. Apakah perempuan itu orang yang tepat? Apakah si calon pasangan dunia akhirat? Hanya Allah yang tahu, kan?

Lelaki manapun bisa saja berharap: Semoga calon isteri yang datang padaku adalah perempuan shalihah. Bila belum shalihah, haruslah dia mengajak, meningkatkan pemahaman agama, terus memperbaiki diri. Menghiasi rumah tangga dengan amalan wajib dan sunnah. Menggapai sakinah. Semoga perempuan yang datang padaku cerdas. Jika belum cerdas, mestilah dia yang mengajar dan belajar dari pasangannya. Mencari ilmu baru, terutama ilmu rumah tangga. Tentang harta, boleh saja meminta: datangkanlah padaku calon isteri yang berharta. Tetapi ingatlah, harta adalah cobaan, tak banyak orang yang bisa tetap rendah hati, menunduk-nunduk ketika punya harta. Lagipula harta gampang dicari. Soal kecantikan, wajar lelaki normal ingin mendapatkan isteri cantik. Tetapi bukan hanya cantik lahir, batinnya juga harus cantik. Yang menjadi pertanyaan, standar apakah yang akan digunakan untuk menilai seorang perempuan cantik. Standar dunia atau standar surga? Standar dunia menekankan kecantikan maya.Mengandalkan kosmetik.

Kecantikan abadi, keindahan hingga akhir hayat dan di akhirat kelak, itulah yang seharusnya dicari. Terserah cantik atau tidak kata dunia, yang penting isteri bisa selalu menarik di mata, di hati. Menjadi telaga sejuk, pohon teduh di terik siang. Standar cantik ini sifatnya personal. Orang lain memandang biasa, tapi luar biasa menurut sang suami.
Perempuan manapun yang datang pada seorang lelaki, sudah sepatutnya ia melepas kacamata kekinian. Menggunakan kacamata masa depan dan kacamata banyak orang untuk menilai. Mungkin banyak keindahan calon pasangan yang sengaja disimpan olehNya. Allah ingin mengujinya, apakah dia cukup shaleh, cukup ikhlas, cukup bersabar untuk mendapatkan pasangan sejati.

Pasti ada keraguan saat menimbang. Maka dari itulah perlunya mengetuk nurani sahabat, saudara, kakak, orang tua, mereka yang lebih berpengalaman. Calon suami dapat bertanya, apakah perempuan begini akan begini-begini? Ia bisa minta tepukan tangan di pundak, pelukan, dan untaian mutiara. Agar sang lelaki yakin, mantap. Semoga setelah itu, dia betul-betul siap, menggenapkan separuh agama, mengapai sakinah. Memberatkan bumi dengan generasi yang menjunjung tinggi kalimat La Illaha Illallah...

Thursday, August 23, 2007

Biarlah cinta itu bermuara dengan sendirinya

Biarlah cinta itu bermuara dengan sendirinya

Kenapa tak pernah kau tambatkan
perahumu di satu dermaga?
Padahal kulihat, bukan hanya satu
pelabuhan tenang yang mau menerima
kehadiran kapalmu!

Kalau dulu memang pernah ada
satu pelabuhan kecil, yang kemudian
harus kau lupakan,
mengapa tak kau cari pelabuhan lain,
yang akan memberikan rasa damai yang lebih?
Seandainya kau mau,
buka tirai di sanubarimu, dan kau akan tahu,
pelabuhan mana yang ingin kau singgahi untuk selamanya,
hingga pelabuhan itu jadi rumahmu,
rumah dan pelabuhan hatimu.

(Judul Puisi " Pelabuhan " karya Tyas Tatanka, kumpulan puisi 7 penyair serang)

Matanya berkaca-kaca ketika perempuan itu selesai membaca dan merenungi isi puisi itu. Dulu sekali perempuan itu telah pernah berharap pada seorang laki-laki yang dia yakin baik dan hanif, ada kilasan - kilasan di hatinya yang mengatakan bahwa mungkin dialah sosok yang selama ini dicari.. dialah sosok yang tepat untuk mengisi hari harinya kelak dalam bingkai pernikahan.

Berawal dari sebuah pertemanan. Berdiskusi tentang segala hal, terutama masalah agama. Perempuan itu sedang berproses untuk mendalami agama Islam dengan lebih intens. Dan laki-laki itu, dia paham agama,dan masih banyak lagi hal - hal positif yang ada dalam diri lelaki itu. Sehingga kedekatan itu membawa semangat perempuan itu untuk terus menggali ilmu agama. dan mempraktekkannya dalam kesehariannya. Kedekatan itu berlanjut menjadi kedekatan yang intens, berbagi cerita, curahan hati, saling meminta saran, saling bertelepon dan bersms, yang akhirnya segala kehadirannya menjadikan suatu kebutuhan. Kesemuanya itu awalnya mengatasnamakan persahabatan.

Suatu hari salah seorang sahabatnya bertanya "Adakah persahabatan yang murni antara laki-laki dan perempuan dewasa tanpa melibatkan hati dan perasaan terlebih bila sudah muncul rasa simpati, kagum dan kebutuhan untuk sering berinteraksi? "

Perempuan itu tertegun dan hanya bisa menjawab " entahlah.."

Sampai suatu hari, laki-laki itu pergi dan menghilang.. . Awalnya masih memberi kabar. Selebihnya hilang begitu saja. Dan perempuan itu masih berharap dan menunggu untuk suatu yang tak pasti. Karena memang tidak pernah ada komitmen yang lebih jauh diantara mereka berdua. Setiap dia mengenal sosok lelaki lainnya... Selalu dibandingkan dengan sosok laki-laki sahabatnya itu dan tentulah sosok laki-laki sahabatnya itu yang selalu lebih unggul dibanding yang lain. Dan perempuan itu tidak pernah lagi membuka hatinya untuk yang lain. Sampai suatu hari,..

Perempuan itu menyadari kesia-siaan yang dibuatnya. Ia berharap ke sesuatu yang tak pasti hanyalah akan membawa luka dihati... Bukankah banyak hal yang bermanfaat yang bisa dia lakukan untuk mengisi hidupnya kini.... Air mata nya jatuh perlahan dalam sujud panjangnya dikegelapan malam... Dia berjanji untuk tidak mengisi hari-harinya dengan kesia-siaan.

"Lalu bagaimana dengan sosok laki-laki itu ??" Perlahan saya bertanya padanya.

"Saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa, yang salah hanyalah persepsi dan harapan yang terlalu berlebihan dari kedekatan itu, dan proses interaksi yang terlalu dekat sehingga timbul gejolak dihati.... Biarlah hal itu menjadi proses pembelajaran dan pendewasaan bagi saya untuk lebih hati - hati dalam menata hati dan melabuhkan hati," ujarnya dengan diplomatis. Hingga saya menemukan perempuan itu kini benar-benar menepati janjinya.

Dunia perempuan itu kini adalah dunia penuh cinta dengan warna-warna jingga, tawa-tawa pelangi, pijar bintang dimata anak anak jalanan yang menjadi anak didiknya.... Cinta yang dialiri ketulusan tanpa pamrih dari sahabat-sahabat di komunitasnya yang menjadikan perempuan itu produktif dan bisa menghasilkan karya...cinta yang tidak pernah kenal surut dari kedua orang tua dan keluarganya. .. Dan yang paling hakiki adalah cinta nya pada Illahi yang selalu mengisi relung-relung hati..tempatnya bermunajat disaat suka dan duka... Indahnya hidup dikelilingi dengan cinta yang pasti.

Adakalanya kita begitu yakin bahwa kehadiran seseorang akan memberi sejuta makna bagi isi jiwa. Sehingga.... saat seseorang itu pun hilang begitu saja... Masih ada setangkup harapan agar dia kembali....Walaupun ada kata-katanya yang menyakitkan hati.... akan selalu ada beribu kata maaf untuknya.... Masih ada beribu penantian walau tak pasti... Masih ada segumpal keyakinan bahwa dialah jodoh yang dicari sehingga menutup pintu hati dan sanubari untuk yang lain. Sementara dia yang jauh disana mungkin sama sekali tak pernah memikirkannya. Haruskah mengorbankan diri demi hal yang sia-sia??

Masih ada sejuta asa.... Masih ada sejuta makna.....Masih ada pijar bintang dan mentari yang akan selalu bercahaya dilubuk jiwa dengan menjadi bermakna dan bermanfaat bagi sesama....

"Lalu... bagaimana dengan cinta yang dulu pernah ada??" tanya saya suatu hari.

Perempuan itu berujar, " Biarkan cinta itu bermuara dengan sendirinya.. . disaat yang tepat... dengan seseorang yang tepat.... dan pilihan yang tepat......hanya dari Allah Swt. disaat dihalalkannya dua manusia untuk bersatu dalam ikatatan pernikahan yang barokah.."

Semoga saja akan demikian adanya...

Tuesday, August 21, 2007

Kalau Saya Jatuh Cinta Lagi

Santai, santun meski ceplas ceplos. Begitulah kesan
saya tentang Pak Haris. Pimpinan sebuah penerbitan di
Solo yang saya temui dalam satu kesempatan.

Saya lupa bagaiman awanya hingga Pak Haris menyinggung
soal poligami. Kebetulan saya tertarik dengan
persoalan ini, dan sedang menulis sebuah novel bertema
poligami yang penggarapannya sangat menyita energi.

Saya ingin mendalami pikiran laki-laki. Sebenarnya apa
yang ada di kepala mereka ketika menikah lagi ?
Awalnya saya kira seperti lelaki lain, Pak Haris akan
mengelak atau memberi jawaban ala kadar. Ternyata…

“Sejujurnya Mba Asma, hanya ada satu alasan inti
kenapa lelaki menikah lagi.”

Saya dan seorang teman saat itu langsung menyimak
baik-baik.

“Dan itu bukan karena menolong, bukan karena kasihan,
atau alasan lai. Saya lelaki. Dan kalau saya menikah
lagi itu murni karena saya suka dengan gadis itu. Saya
jatuh cinta. Titik.”

Wah, jujur sekali. Pikir saya salut.

Dialog yang berawal di rumah makan berlanjut ke dalam
mobil . saya dan teman yang memang bekerja di
penerbitan yang dikelola Pak Haris kemudian
mengunjungi penerbitan beliau. Saya diperkenalkan
kepada beberapa pegawai dan juga produk-produk mereka.

Di sofa tamu, obrolan berlanjut lagi.

“Sebenarnya Ramadhan kemarin saya tergoda sekali untuk
menikah lagi. Sungguh keinginan itu dating begitu
dasyatnya.”

“Padahal Ramadhan ya, Pak ?”

Lelaki itu tertawa, mengiyakan.

“Dan saya kira saya hamper saja berpoligami, kalau
saja saya tidak bertemu seorang teman. Ikhwan yang
memberi satu pernyataan luar biasa benar dan akhirnya
berhasil mengubah niat saya.”

Dalam hati saya menebak-nebak kemana penjelasan Pak
Haris berikutnya.

“Ikhwan itu berkata begini, Mbak Asma…..Jika saya
menikah lagi; Pertama, kebahagiaan dengan istri kedua
belum tentu….karena tidak ada jaminan untuk itu. Apa
yang diluar kelihatan bagus, dalamnya belum tentu.
Hubungan sebelum pernikahan yang sepertinya indah,
belum tentu akan terealisasi indah. Dan sudah banyak
kejadian seperti itu.”

Benar sekali, komen saya dalam hati.

“Yang kedua, Pak ?”

Lelaki itu terdiam, lalu menatap saya dengan pandangan
serius.

“Sementara luka hati istri pertama sudah pasti, dan
itu akan abadi.”

Saya melihat Pak Haris menarik napas panjang, sebelum
menuntaskan kalimatnya.

“Sekarang, bagaimana saya melakukan sebuah tindakan
untuk keuntungan yang tidak pasti, dengan mengambil
resiko yang kerusakannya pasti dan permanent ?”.

****

Dialog di atas terjadi bertahun-tahun lalu. Saya tidak
tahu pasti bagaimana kabar Pak Haris sekarang, apakah
masih berpegang pada masukan si ikhwan itu atau tidak.

Saya sendiri menerima aturan poligami yang memang ada
dalam Qur’an, tetapi cenderung menyetujui pendapat
seorang ustadz muda yang mengatakan asal syari’at
poligami pada dasarnya adalah monogamy. Artinya dalam
keadaan normal, monogamy tetap lebih utama.

Betapa pun, sungguh saya iri terhadap para istri yang
sanggup mengikhlaskan suaminya menikah lagi. Hal yang
tentu teramat sulit. Bagaimana bisa berbagi pasangan
hati yang selama bertahun-tahun hanya menumpukan
perhatian pada kita sebagai satu-satunya istri ?”

Rasa iri tadi sering ditambah dengan kesedihan yang
luar biasa, saat menyadari betapa mudahnya lelaki
kemudian melalaikan tanggung jawab bahkan sampai
menelantarkan istri pertama dan anak-anaknya

Untuk kebahagian yang belum pasti ?

Teringat seorang teman asal Malaysiayang saya temui di
Seoul. Lelaki yang dengan lantang menerangkan
statusnya, ketika ditanyakan berapa anak yang Allah
telah karuniakan kepadanya,

“Dari istri pertama ada tiga. Dari istri kedua belum
ada…..”

Barangkali karena merasa bertemu dengan muslim di
negeri yang sebagian besar besar penduduknya non
muslim itu, hingga dia menjadi terbuka kepada saya.

Apalagi setelah saya katakana bahwa saya seorang
penulis.

Pernikahan kedua itu tidak pernah direncanakan.

“Ini takdir,” katanya,” Saya tidak pernah sengaja
mencari istri lain.”

Saya diam saja. Tidak hendak berdebat soal itu.
Hanya setelah saya tanyakan kerepotan memiliki dua
istri, ceritanya semakin menarik. Terakhir saya
tanyakan apakah dia merasa lebih bahagia setelah
menikal lagi ?

Mendengar pertanyaan saya, lelaki bertubuh tinggi itu
tampak termenung cukup lama sebelum menjawab,

“Yang sudah terjadi, tidak bolehlah kita sesali.”

Menatap senyum getir lelaki itu, seketika ingatan saya
terlempar pada kalimat terakhir Pak Haris, beberapa
tahun lalu.

Diambil dari buku nya Asma Nadia "Catatan Hati Seorang
Istri"

KISAH SEBATANG BAMBU

Sebatang bambu yang indah tumbuh di
halaman rumah seorang petani.
Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang
di antara batang-batang bambu
lainnya.
Suatu hari datanglah sang petani yang
empunya pohon bambu itu.
Dia berkata kepada batang bambu," Wahai
bambu, maukah engkau kupakai
untuk menjadi pipa saluran air, yang
sangat berguna untuk mengairi
sawahku?"

Batang bambu menjawabnya, "Oh tentu aku
mau bila dapat berguna bagi
engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang
akan kau lakukan untuk membuatku
menjadi pipa saluran air itu."
Sang petani menjawab, "Pertama, aku akan
menebangmu untuk memisahkan
engkau dari rumpunmu yang indah itu.
Lalu aku akan membuang
cabang-cabangmu yang dapat melukai orang
yang memegangmu. Setelah itu
aku akan membelah-belah engkau sesuai
dengan keperluanku. Terakhir aku
akan membuang sekat-sekat yang ada di
dalam batangmu, supaya air dapat
mengalir dengan lancar.

Apabila aku sudah selesai dengan
pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa
yang akan mengalirkan air untuk mengairi
sawahku sehingga padi yang
kutanam dapat tumbuh dengan subur."

Mendengar hal ini, batang bambu lama
terdiam..... , kemudian dia
berkata kepada petani, "Tuan, tentu aku
akan merasa sangat sakit
ketika engkau menebangku. Juga pasti
akan sakit ketika engkau membuang
cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi
ketika engkau membelah-belah
batangku yang indah ini, dan pasti tak
tertahankan ketika engkau
mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku
untuk membuang sekat-sekat
penghalang itu. Apakah aku akan kuat
melalui semua proses itu, Tuan?"

Petani menjawab batang bambu itu, "
Wahai bambu, engkau pasti kuat
melalui semua itu, karena aku memilihmu
justru karena engkau yang
paling kuat dari semua batang pada
rumpun ini. Jadi tenanglah."

Akhirnya batang bambu itu menyerah,
"Baiklah, Tuan. Aku ingin sekali
berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku,
perbuatlah sesuai dengan yang
kau kehendaki."

Setelah petani selesai dengan
pekerjaannya, batang bambu indah yang
dulu hanya menjadi penghias halaman
rumah petani, kini telah berubah
menjadi pipa saluran air yang mengairi
sawahnya sehingga padi dapat
tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.

Pernahkah kita berpikir bahwa dengan
masalah yang datang silih
berganti tak habis-habisnya, mungkin
Allah sedang memproses kita untuk
menjadi indah di hadapan-Nya? Sama
seperti batang bambu itu, kita
sedang ditempa, Allah sedang membuat
kita sempurna untuk di pakai
menjadi penyalur berkat. Dia sedang
membuang kesombongan dan segala
sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya.
Tapi jangan kuatir, kita pasti
kuat karena Allah tak akan memberikan
beban yang tak mampu kita pikul.
Jadi maukah kita berserah pada kehendak
Allah, membiarkan Dia bebas
berkarya di dalam diri kita untuk
menjadikan kita alat yang berguna
bagi-Nya?

Seperti batang bambu itu, mari kita
berkata, " Ini aku Allah,
perbuatlah sesuai dengan yang Kau
kehendaki."

Sunday, August 19, 2007

10 Ways to Have a Better Day Today

10 Ways to Have a Better Day Today

(Ini akan terwujud untuk anda yang menjalankan puasa sunnah Senin-Kamis atau puasa sunnah yang lain)

1. Wake up 30 Minutes Early.
Jika anda berniat dan bangun untuk sahur di pagi hari anda dijamin pasti bangun lebih pagi dari biasanya. Bahkan mungkin lebih dari 30 menit sebelumnya.

2. Read, Listen, or Watch Something Uplifting.
Selesai sahur anda mandi dan bersiap pergi ke masjid terdekat, jika memungkinkan dengan berjalan kaki, maka udara segar akan meningkatkan kesehatan anda, nikmatilah. Begitu sampai di masjid, jika belum pernah, dengarkanlah adzan subuh yang begitu merdu, ini akan menginspirasi anda.

3. Eat a Good Breakfast to Start You Off Right.
Sarapan sudah pasti anda dapatkan jika anda sahur. Nikmatilah sahur, yang anda makan itu, bukan sesuatu yang biasa hadir untuk dimakan, tetapi sebuah kemudahan dan karunia Allah yang luar biasa, masih ada makanan terhidang di depan mata kita. Bersyukurlah.

4. Choose Your Winning Attitude.
Perilaku yang terbaik jika anda melakukan shalat subuh, apalagi jika berjamaah di masjid. Ini adalah kemenangan anda yang pertama. Kemenangan melawan setan yang menghambat anda bangun tidur, sahur dan shalat subuh. Hayya alal falah… Raihlah kemenangan…

5. Be Aware of What They are Telling You.
Akan lebih indah lagi jika anda bisa mengajak seluruh anggota keluarga bangun pagi, sahur, shalat subuh berjamaah. Wah… indah nian, sebuah kebiasaan baik yang akan mengantarkan pertukaran tutur kata yang santun dan sopan dalam keluarga.

6. Make the Most of What You Do.
Anda akan melakukan yang terbaik bila anda khusyuk. Ya khusyuk. Jika anda khusyuk (fokus) dalam shalat-shalat anda, maka itu akan terbawa dalam semua perilaku anda yang lain akan ikut khusuk. Jika sudah khusyuk (fokus), maka pastilah yang keluar adalah yang terbaik.

7. Always Remember that People are Listening.
Jika anda berpuasa pasti anda tidak akan mengatakan sesuatu yang kurang baik pada orang lain, anda akan menjaga lisan anda. Dan sekaligus anda akan terus termotivasi untuk mengucapkan yang terbaik untuk memelihara pahala anda.

8. Be Honest and Fair to Others.
Jika anda sudah berniat puasa pasti anda akan berusaha sekuat mungkin untuk lebih jujur daripada biasanya. Ini latihan yang luar biasa. Dalam setiap tindakan anda akan mencoba berpikir sejenak dan berkata dalam hati: “Ini jujur enggak ya..?”

9. Pace Your Energy to Last All Day.
Jelas dengan niat berpuasa pasti anda akan bijak dalam mengeluarkan energi anda, dan ini juga sebuah latihan yang sangat baik untuk mengatur energi dalam menghadapi hari yang panjang dan penuh tantangan.

10. Get in Bed Early and Study for the Future.
Jika anda tadi sudah bangun pagi dan sahur, pasti anda akan merasa butuh untuk tidur lebih cepat. Apalagi jika sebelum tidur anda shalat Isya dan mengevaluasi diri (muhasabah) atas apa yang telah terjadi hari ini, benar-benar akan menjadi perilaku yan gluar biasa. Dan setelah itu anda berdoa memohon pada Yang Kuasa, agar diberi hari yang lebih cerah di keesokan hari. Insya Allah.

Have another positive day!

Saturday, August 18, 2007

Tak Mungkin Ku Melepasmu

Mengartikan dirimu di dalam hatiku
Betapa kusesali adanya dirimu
Haruskah ku bertahan demi cinta ini
Yang tak mungkin

Andaikan saja ada keteduhan hati
'Tuk membuka kembali jalan cinta ini
Biarkan ku menanti semua janji kita
Sampai batas waktu mengakhiri

Dan tak mungkin untuk kita bersama
Di atas perbedaan yang s'lamanya mengingkari
Dan tak mungkin bila ku melepasmu
Sungguh hati tak mampu mengertilah cintaku (percayalah cintaku)
Dan tak mungkin (apa mungkin)

Semestinya tak ada yang memisahkan
Cinta ini kar'na hanya dirimu satu cintaku

Tuesday, August 14, 2007

Saya belajar..

Saya belajar..

Saya belajar,
bahwa saya tidak dapat memaksa orang lain mencintai saya.
Saya hanya dapat melakukan sesuatu untuk orang yang saya cintai...

Saya belajar,
bahwa butuh waktu bertahun-tahun untuk membangun kepercayaan
dan hanya beberapa detik saja untuk menghancurkannya. ..

Saya belajar,
bahwa orang yang saya kira adalah orang yang jahat,
justru adalah orang yang membangkitkan semangat hidup saya kembali
serta orang yang begitu perhatian pada saya....

Saya belajar,
bahwa sahabat terbaik bersama saya dapat melakukan banyak hal
dan kami selalu memiliki waktu terbaik....

Saya belajar,
bahwa persahabatan sejati senantiasa bertumbuh walau dipisahkan oleh jarak
yang jauh. Beberapa diantaranya melahirkan cinta sejati...

Saya belajar,
bahwa jika seseorang tidak menunjukkan perhatian seperti yang saya inginkan,

bukan berarti bahwa dia tidak mencintai saya....

Saya belajar,
bahwa sebaik-baiknya pasangan itu,
dia pasti pernah melukai perasaan saya
dan untuk itu saya harus memaafkannya. .....

Saya belajar,
bahwa saya harus belajar mengampuni diri sendiri dan orang lain....,
kalau tidak mau dikuasai perasaan bersalah terus menerus....

Saya belajar,
bahwa tidak masalah berapa buruknya patah hati itu,
dunia tidak pernah berhenti hanya gara-gara kesedihan saya...

Saya belajar,
bahwa saya tidak dapat merubah orang yg saya sayangi,
tapi semua itu tergantung dari diri mereka sendiri....

Saya belajar,
bahwa lingkungan dapat mempengaruhi pribadi saya,
tapi saya harus bertanggung jawab untuk apa yang saya telah lakukan....

Saya belajar,
bahwa dua manusia dapat melihat sebuah benda,
tapi kadang dari sudut pandang yang berbeda....

Saya belajar,
bahwa tidaklah penting apa yang saya miliki,
tapi yang penting adalah siapa saya ini sebenarnya.. ..

Saya belajar,
bahwa tidak ada yang instan atau serba cepat di dunia ini,
semua butuh proses dan pertumbuhan, kecuali saya ingin sakit hati....

Saya belajar,
bahwa saya harus memilih apakah menguasai sikap dan emosi
atau sikap dan emosi itu yang menguasai diri saya...

Saya belajar,
bahwa saya punya hak untuk marah,
tetapi itu bukan berarti saya harus benci dan berlaku bengis....

Saya belajar,
bahwa kata-kata manis tanpa tindakan
adalah saat perpisahan dengan orang yang saya cintai...

Saya belajar,
bahwa orang-orang yang saya kasihi
justru sering diambil segera dari kehidupan saya....

Selamat belajar !

Sunday, August 12, 2007

Ketika 4JJI memblokir jalan

Kebayang ngga', ketika suatu waktu kita hendak menuju suatu tempat,
lalu jalan menuju ke tempat tersebut di blokir?
Apa yang biasanya kita lakukan?
Biasanya sih ada yang nekad menerobos maju, hingga kena sempritan polisi
Akhirnya?
Kalo tidak STNK diamankan…ya damai, dengan uang sekitar 50rb-150rb
(ini sih diIndonesia…hanya di Indonesia..)

Lalu, mungkin ada juga yang mengurungkan niat, berbalik pulang, lalu
merencanakan untuk pergi ke tempat lain..
Kalo saya sih-dan mungkin umumnya orang lain-biasanya mencari jalan
alternatif..
Yang jelas kalo dah niat berangkat, ya diusahakan sampai..

Lalu bagaimana kalo jalan alternatif pertama juga ditutup, karena
sesuatu dan lain hal misalnya..?
Umumnya orang akan mencari jalan alternatif kedua, ketiga, dst..
Atau bila tidak sampai juga, biasanya kita akan menentukan tujuan
alternatif, yang senada dengan tujuan sebelumnya…

Seperti kisah saya mencari makan siang …

niat awalnya ingin makan soto ceker, yang karena harga mahal akhirnya
urung membeli,boros. . lalu beralih berniat beli nasi uduk.
Namun karena ada kawinan, jalan diblokir, saya mencari jalan
alternatif yang lain, tapi di tengah jalan akhirnya niat berubah lagi,
malah dapat gado-gado..
Bisa jadi lebih mahal dari nasi uduk, tapi lebih murah dari soto ceker.
Yang jelas, lebih enak, puas..atau mungkin saja saat itu tubuh saya
memang sedang butuh serat, sehingga untungnya jadi berlipat.

Lalu,
Pernah terpikir ngga' bila suatu saat Allah memblokir jalan hidup yang
ingin kita tempuh, jalan yang kita niatkan, yang kita harapkan..?
Saya berusaha memikirkan hal ini…
Kekuasaan Allah selalu menyertai detik kehidupan kita. Ikut campur
dalam setiap scenario yang (kita anggap..) kita sketsakan..
Hingga di ujung penelusuran akal, saya dapatkan hikmah bahwa hidup
kita sudah di-giring oleh Allah menuju kehendak-Nya.

Misalnya ,tentang seorang teman perempuan yang suka pada seorang laki-laki,
namun dengan mantap memutuskan menikahi laki-laki lain yang lebih
paham agama, lebih memiliki komitmen dalam menjaga diri dari korupsi
dll. Awalnya ia sempat ragu, membayangkan keterpaksaan yang sengaja
dia pilih. Namun akhirnya, Allah berkenan memberi kesempatan kepadanya
untuk berucap : "Na…aku takut terlalu mencintai suamiku…. "

Dari sana kita sudah bisa melihat dengan jelas benang
merahnya..
Allah menghendaki yang terbaik bagi hamba yang memang menggantungkan
segala sesuatu kepadaNya..

Jalan-jalan yang diblokir oleh Allah,

bisa jadi..
Merupakan jalan untuk menggiring kita menuju takdir terbaik yang telah
ditetapkannya. .

Bisa jadi…
Menjadi sarana bagi Allah untuk mendekatkan kita kepadaNya…hingga kita
selalu berdoa mengingatNya, bergantung padaNya..

Bisa jadi…
Karena Ia ingin melihat usaha dan kesungguhan kita..
Menguji siapa yang tahan uji, siapa yang tidak..
Menguji kesungguhan niat..

Lebih dari itu..sesungguhnya Ia Mengetahui, sedang kita tidak tahu apa-apa
Ia Maha berkehendak, sementara kita adalah makhluk yang senantiasa
membutuhkanNya. .

Kadang ada kemauan Allah yang tidak kita mengerti..
Karena Allah memang bekerja dengan cara yang tidak akan pernah kita
mengerti..

Hingga suatu saat hikmah itu datang dengan sendirinya..
Menyerbu akal, yang kadang mengundang tahmid dan istighfar..
Tidak sedikit yang membawa senyum, juga kelegaan yang sangat…

Jadi, bila suatu waktu Allah memblokir jalan anda..
Cobalah berhuznodzon, berbaik sangka, meneguhkan niat, lalu cerdas
dalam berusaha..
InsyaAllah, Allah akan melihat usaha anda, lalu membukakan jalan lain
bagi anda, yang bisa jadi lebih mulus, tidak macet, atau penuh dengan
polusi udara..

Atau..

Sempatkan untuk berfikir…jangan- jangan pemblokiran jalan itu hanya
untuk sementara waktu, karena ada alasan yang terkadang tidak bisa
kita duga..
Sehingga setelahnya, anda sudah dapat lewat dan mencapai tujuan yang
sudah direncanakan sebelumnya…

Wallahu'alam…

Thursday, August 2, 2007

Maafkan Aku Bila Aku Mengeluh

Maafkan Aku Bila Aku Mengeluh

Hari ini, di sebuah bus, aku melihat seorang remaja cantik dengan rambut sedikit ikal. Aku iri melihatnya. Dia tampak begitu ceria, dan aku sangat ingin memiliki gairah hidup yang sama. Tiba-tiba dia terhuyung-huyung berjalan. Dia mempunyai satu kaki saja, dan memakai tongkat kayu. Namun ketika dia lewat .... ia tersenyum. Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua kaki. Dunia ini milikku.

Aku berhenti untuk membeli sedikit kue. Anak perempuan penjualnya begitu mempesona. Aku berbicara padanya. Dia tampak begitu gembira. Seandainya aku terlambat sampai di kantor, tidaklah apa-apa. Ketika aku pergi, dia berkata, 'Terima kasih. Engkau sudah begitu baik. Menyenangkan berbicara dengan orang sepertimu. Lihatlah, aku buta.' Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua mata. Dunia ini milikku.

Lalu, sementara berjalan. Aku melihat seorang anak mirip bule dengan bola mata biru. Dia berdiri dan melihat teman-temannya bermain sepak bola. Dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya. Aku berhenti sejenak, lalu berkata, 'Mengapa engkau tidak bermain dengan yang lain, Nak ?' Dia memandang ke depan tanpa bersuara, lalu aku tahu dia tidak bisa mendengar. Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh. Aku punya dua telinga. Dunia ini milikku.

Dengan dua kaki untuk membawaku ke mana aku mau. Dengan dua mata untuk memandang mentari dan bukit-bukit. Dengan dua telinga untuk mendengar desir angin dan segala bunyi. Ya Allah, maafkan aku bila aku mengeluh.



kisah ini sungguh sangat berarti bagi diriku
yang selama ini kadang belum ikhlas menerima apa yang di gariskan Allah untuk ku Senyum manis

Ya Allah maafkan aku bila selalu mengeluh ........

Terimakasih buat orang2 yang sudah mengingatkan dan memberi ku semangat Senyum manis




Jika kita memiliki kesedihan, maka bersedihlah.. tapi jangan kau simpan kesedihan itu terlalu mendalam.. jadikanlah ia seperti tulisan di atas pasir yang mudah hilang ketika tertiup oleh angin kebahagiaan..

Wednesday, August 1, 2007

Suami Pilihan

2 Agu 07 09:03 WIB

Oleh Sya2

Belum terlalu lama saya mengenalnya, baru sekitar 3 bulan lalu semenjak saya memutuskan untuk berlangganan ojeg dengannya. Tarif ojegnya lebih murah dibanding dengan yang ditawarkan tukang ojeg lainnya. Jika yang lain meminta Rp 7000, dia hanya meminta Rp 5000 untuk pengganti jasa mengantarkanku dari stasiun Tanah Abang menuju kantorku di Slipi.

Pak Asmadi namanya, usianya sudah kepala empat, ia mengaku sudah delapan belas tahun menjalani profesinya sebagai tukang ojeg. Pertemuan yang hampir tiap hari dengannya, membuat saya tahu tentang sedikit kisah hiudpnya, kadangkala saya dibuat kagum ketika darinya saya peroleh kata-kata bijak, nasehat, layaknya seorang bapak yang sedang menasehati anaknya.

Siapa menyangka kalau tukang ojeg yang hanya lulusan SLTA itu mempunyai seorang isteri yang berpangkat eselon 3 di salah satu kantor pemerintahan di Jakarta. Isterinya adalah lulusan pasca sarjana dari salah satu universita negeri di Jakarta. Ketiga anak yang dimilikinya semua juga berpendidikan sarjana, hanya Pak Asmadi sendiri yang hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SLTA. Dari hasil menarik ojeg itulah Pak Asmadi membiayai anak-anaknya kuliah. Kadangkala Pak Asmadi juga mencari tambahan penghasilan lain misalnya dengan berdagang kambing ketika mendekati hari raya Idul Adha.

Awalnya, saya berpikir hal ini sebagai sebuah kemustahilan, di benak ini selalu saja timbul pertanyaan ”Bagaimana mungkin Pak Asmadi seorang tukang Ojeg itu bisa memiliki seorang Isteri yang berpendidikan dan berjabatan tinggi di kantor pemerintahan?”.

Ada rasa tak percaya sampai di kemudian hari Pak Asmadi memperlihatkan pada saya foto Isterinya sedang dilantik oleh salah satu menteri. ”Ini mbak, foto isteri saya waktu dilantik oleh Pak Mentri, dan yang satunya itu foto saya sewaktu mendampinginya...” Tunjuk Pak Asmadi. Terlihat foto seorang wanita yang sedang bersalaman dengan seorang menteri, dan sebuah foto lagi menampilkan foto bersama seluruh jajaran pejabat dengan para pasangannya, kulihat Pak Asmadi memang ada di situ dengan baju batik coklatnya. Dari wajahnya memancar senyum bahagia begitu pula dengan isterinya.

****

Saya sering melihat rubrik kontak jodoh di salah satu media cetak di Ibukota. Bukan, Bukan karena saya berniat ingin mencari jodoh lagi, tapi hanya sekadar iseng yang benar-benar iseng. Siapa tahu ada teman yang mengiklankan diri di situ, kan bisa jadi bahan ledekanku untuknya. Salah satu contoh isi iklan perjodohan yang sering kulihat itu adalah seperti ini misalnya: Seorang wanita, 25 tahun, Sarjana, tinggi badan 160 cm, bb 43 kg, berkulit putih mulus, wajah manis, Islam, pintar mengaji, keibuan dan pandai memasak mendambakan: Seorang laki-laki, perjaka tulen, minimal 26 tahun, lulusan pasca sarjana, berpenghasilan tetap (swasta/PNS), tinggi badan minimal 170 cm dengan berat badan seimbang, Islam taat, Pandai mengaji dan bersifat kebapakan.

Coba kita lihat iklan tersebut, dan perhatikanlah. Niscaya kita akan menemukan sebuah fakta bahwa seorang wanita pada umumnya menginginkan pasangan (calon suami) yang memiliki spesifikasi yang lebih baik dari spesifikasi yang dimilikinya. Baik itu dari segi fisik, tingkat pendidikan atau hal-hal kasat mata lainnya. Menurut saya hal ini sangat wajar. Karena bagaimanapun juga seorang lelaki akan menjadi pemimpin dalam sebuah rumah tangga, jadi semakin bagus kualitasnya akan semakin baik bagi keluarganya kelak. Begitu kondisi idealnya.

****

Kembali kepada kisah Pak Asmadi dan isterinya, saya menjadi tersadarkan bahwa ternyata tidak semua wanita melihat kualitas calon suami hanya dari kasat mata yang tampak saja. Rasa penasaran saya muncul menggelitiki hati, membuat saya secara diam-diam ingin menyelidiki apa alasan Isteri Pak Asmadi begitu bangga dan mencintai suaminya yang ”hanya” seorang tukang ojeg dan hanya berpendidikan setingkat SLTA. Sementara isterinya adalah wanita karir yang sukses yang memiliki pendidikan dan jabatan yang tinggi.Tidak ada rasa malu padanya akan ”kesenjangan” itu.

Suatu hari dalam perjalanan menuju kantor, Pak Asmadi mengajukan sebuah pertanyaan pada saya ”Mbak, tahu ngga resep saya supaya tidak pernah mengalami kecelakaan di jalan atau supaya tidak pernah kena razia polisi jalan?” Saya pura-pura berpikir lantas menjawab ”hmm... tidak tahu pak, apa resepnya?” ”Berdzikir mbak...” jawabnya. ”Berdzikir itu mengingat kepada Allah, bisa dilakukan di mana saja, kalau kita sehabis melaksanakan sholat baik itu sholat fardhu atau sholat sunnah, usahakan jangan langsung berdiri, dzikirlah terlebih dahulu. Dzikir juga tidak hanya dilakukan setelah sholat, tapi bisa di mana saja, termasuk di jalan raya ketika mengendarai sepeda motor seperti saya ini”

”Bapak rajin ber-dzikir? ” saya bertanya untung memancing.

“Alhamdulilah mbak, setiap selesai sholat saya selalu berdzikir, bahkan dalam perjalanan saya dari rumah sampai ke stasiun saya juga selalu berdzikir, kalau tidak salah ada dalam Al-quran perintah untuk mengingat Allah dalam keadaan duduk maupun beridir, itu artinya dalam keadaan apapun kita harusnya selalu mengingat Allah kan mbak?”

“Iya, betul pak, Berdzikir dengan mengingat Allah membuat hati kita merasa tenang dan tentram, itulah mungkin yang membuat Bapak jadi tidak pernah mengalami kecelakaan saat mengendaria sepeda motor, karena saat itu Bapak berdzikir sehingga pikiran dan hati Bapak menjadi tenang, berkendaraan pun jadi tenang “ jawabku menyimpulkan.

Ternyata dari Pak Asmadi, terdapat banyak hikmah. Saya bisa memunguti hikmah-hikmah itu untuk diri saya. Sekaligus menyadari bahwa Pak Asmadi ternyata orang yang taat beragama lagi berakhlak mulia, wajarlah jika sang isteri begitu mencintainya.

***

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasullullah pernah bersabda ”Jika datang kepada kalian orang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia, karena jika tidak maka akan menjadi fitnah di bumi dan juga kerusakan.” Para sahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah, meskipun pada diri orang tersebut terdapat kekurangan?” Beliau menjawab, ”Jika ada orang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian, maka nikahkanlah dia” Artinya, jika kalian tidak menikahkan orang laki-laki yang taat beragama lagi berakhlak mulia meskipun tidak kaya atau tidak terhormat atau tidak kufu’, sedang kalian lebih menyukai orang laki-laki yang kaya, terhormat, lagi terpandang meskipun tidak taat beragama dan tidak berakhlak mulia, niscaya hal tersebt akan mengakibatkan kerusakan yang parah. Mungkin akan banyak wanita yang hidup tanpa suami dan banyak pula laki-laki yang hidup tanpa isteri. Akhirnya banyak perzinaan dan tersebar pula perbuatan keji.

Rasulullah SAW menyebutkan akhlak bersaaan dengan agama, karen akhlak berperan sangat penting sekali dalam kehidupan rumah tangga. Rasulullah tidak cukup hanya dengan menyebutkan agama saja, Sebab, terkadang ada orang yang taat beragama tetapi akhlaknya tidak cukup baik untuk kehidupan rumah tangga, bahkan berakhlak tercela dan berwawasan sempit serta fanatik sehingga dia akan meletakkan agama di sampingnya dan menggauli isterinya dengan akhlak yang tidak baik. Akhirnya muncul kesan bahwa tingkah laku bururk itu disebabkan oleh agama. Padahal yang demikian itu merupakan keyakinan yang salah, karena Agama memerintahkan untuk mempergauli isteri secara baik.

***

Kini terjawablah sudah rasa kepenasaran saya. Isteri Pak Asmadi ternyata benar-benar telah menjalankan sabda Rasullullah SAW tersebut. Menentukan suami pilihannya adalah seorang yang taat beragama dan berakhlak mulia meskipun tidak kaya, tidak terhormat atau tidak se kufu’ dengannya. Satu pelajaran berharga yang bisa saya ambil darinya.